Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Romantisnya Sebuah perseteruan

Senin, 03 Mei 2010


Mungkin cerita berikut bukan untuk yang pertama kali dipublikasikan, salah satu cerita favorit saya. Tapi buat anda yg belum sempat membaca jangan lewatkan cerita berikut, " sweet thing for your love journeys "..


* _ -


Fairuz mendengarkan obrolan ibu-ibu tetangga barunya. Dia paling muda di antara mereka. Sesekali ia tersenyum atau tertawa kecil menanggapi. Baginya itu bukan obrolan biasa. Dari mereka terpetik juga sebuah masukan yang baik. Sesuatu yang selama ini belum diketahuinya.

Tadinya ia hanya bermaksud mengantar kue ke rumah Ibu Desy. Ia baru saja selesai memasaknya. Ternyata di situ sudah ada Ibu Wina, Ibu Hesty dan Ibu Nani. Ia tidak diizinkan pergi. Mereka menyuruhnya duduk dan mengobrol. Dalam sekejap, kue yang ia bawa telah berpindah ke mulut mereka masing-masing.

"Sebelum saya menikah dengan Bapak si Dodo, sering dia bawa saya makan di Restauran. Pokoknya aneka macam jajanan pernah kami coba. Setelah menikah sampai punya anak tiga, dalam setahun aja belum tentu kami makan di luar!" Ibu Desy menggambarkan sosok suaminya. "Memang begitulah lelaki, Bu. Penilaian kita sebelum menikah bisa berbeda dengan setelah kita menikah. Apalagi setelah punya anak," tambah Ibu Wina.

"Ya, ialah. Kita, para isteri dapat mengetahui karakter suami kita sendiri setelah menikah dengannya. Di dalam kancah rumah tanggalah akan terbongkar semua karakternya. Tidak mungkin disembunyikan lagi seperti waktu pacaran," Ibu Hesty menimpali. "Apalagi yang mau disembunyikannya. Namanya juga sudah satu atap, satu tempat tidur, satu nafas pula," sahut Ibu Nani sambil tertawa, diikuti ibu-ibu lain. Tak terkecuali Fairuz.

Sejak kepindahannya beberapa minggu lalu, baru kali ini ia bisa berada satu ruangan dan mengobrol dengan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Biasanya ia hanya berbasa-basi dan bertegur sapa. Setiap hari dia disibukkan urusan mengatur dan menyusun barang-barangnya, yang dibawa dari rumah kontrakan lama.

Fairuz merasa senang dengan bahan yang mereka obrolkan. Sesuatu yang memang benar-benar dialami. Bukannya cerita mengada-ada atau menggosip. Kalau itu, jelas-jelas ia tak suka. Apalagi kalau suaminya tahu, pastilah ia akan marah. "Suami saya seringkali membuat saya kesal. Sudahlah dia pulang larut malam, tak bawa uang pula. Sampai di tempat tidur, minta dilayani. Karena saya kesal, saya serahkan saja saya mau diapainnya. Saya sudah tak tahu apa-apa lagi," cerita Ibu Nani.

"Apa dia tidak marah, Ibu seperti itu?" Fairuz balik bertanya. Keningnya berkerut. "Rus, kita harus bisa ngasih pelajaran sama suami kita. Toh untuk kebaikan kita bersama. Seharian kita mengurus anak dan rumah tangga. Jangan dia mau enaknya saja. Dalam rumah tangga, kita kan harus saling berbagi dan memahami," lanjut Ibu Nani.

"Kalau suami saya lain lagi. Dia tidak pernah memeluk dan melakukan hal yang romantis, kecuali untuk berhubungan intim. Sebagai wanita, saya kan juga ingin dimanja. Bukan hanya sebagai sebuah barang yang dibutuhkan, maka dipakai. Lantas kalau tidak dibutuhkan, tidak dianggap. Hubungan yang romantis di antara suami isteri, bukan harus melulu di tempat tidur. Kita bisa ciptakan banyak hal di luar itu," giliran Ibu Hesty bercerita panjang lebar. Dia sudah sepuluh tahun menikah, anaknya dua orang.

"Apa suami Ibu bisa mengerti kemudian?" tanya Fairuz ingin tahu. Ibu-Ibu yang lain ikut menunggu jawaban Ibu Hesty.
"Yah... perlahan-lahan saya bicarakan padanya. Sampai pernah saya mengetes dia. Saya tidur di kamar sebelah. Akhirnya kami berbaikan, sampai sekarang."

Fairuz dan ibu-ibu yang lain tampak manggut-manggut mendengar cerita Ibu Hesty. Ternyata tiap wanita tak pernah sepi dari problematika di dalam rumah tangga. Mungkin kalau para isteri dikumpulkan, akan sangat banyaklah permasalahan yang mereka bawa dari rumah tangga mereka masing-masing.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Pertemuan tak terencana itu pun bubar dengan damai.

"Dek, tolong buatkan abang kopi ya. Taruh di dalam kamar." Deg. Jantung Fairuz berdebar. Bukan karena Faisal menyuruh sesuatu yang tak bisa ia lakukan. Apalah susahnya membuat secangkir kopi hangat. Namun, kali ini ada yang menganggu pikirannya. Sesuatu yang ingin dia tunjukkan pada Faisal.

Setiap kali Faisal meminta dibuatkan secangkir kopi hangat, itu sebuah pertanda Faisal ingin membuka pintu kemesraan dengannya. Ia sudah sangat paham. Padahal baru saja Fairuz merasa kesal dibuatnya. Sudah tiga bulan Faisal berjanji membelikannya sebuah liontin emas. Ada saja kendalanya. Bulan pertama, harus membayar uang sekolah adiknya. Bulan kedua, harus membetulkan seng yang bocor di rumah bapak. Bulan ini, harus membiayai perobatan ibu.

Anehnya, pada saat Faisal tahu hatinya lagi kesal, di situ pulalah ia ingin bemesraan dengannya. Seolah-olah untuk menghilangkan rasa kesalnya. Membuatnya merasa nyaman. Tidak lagi memikirkan tentang masalah yang mereka hadapi. Selama ini memang Fairuz menganggapnya sebagai hal yang wajar, namun hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

"Menyelesaikan masalah dengan berhubungan intim, bukan jalan keluar yang baik. Itu suatu kesalahan besar!" bisiknya pada dirinya sendiri, dan akan ia tegaskan pula pada suaminya.

Di dapur, saat membuatkan kopi, Fairuz bertekad, bila nanti Faisal mulai menyentuhnya, ia akan tepiskan tangannya. Saat tubuh Faisal mendekat ke arahnya, ia akan menjauh darinya. Fairuz pun masuk ke dalam kamar.


"Makasih ya, Sayang. Sini, dekat abang," raut wajah Faisal cerah seperti bulan purnama. Sebaliknya, hati Fairuz berdebar menjalankan rencananya.

"Lho, kok malah menjauh dari abang?"
Tangan Fairuz diraih. Cepat Fairuz menepisnya.
"Bang, kenapa sih setiap Fai kesal, Abang selalu berusaha menghilangkan kesal Fai dengan cara ini. Lama kelamaan Fai tidak suka, Bang. Seolah-olah abang menggampangkan saja perasaan Fai. Tidak memedulikan apa yang Fai inginkan."

Faisal terpana. Sekonyong-konyong Fairuz berubah menjadi seorang hakim di sebuah pengadilan, yang sedang membacakan tuntutannya kepada seorang terdakwa.

Mata Fairuz menyorot tajam, dadanya turun naik seperti orang yang sedang menunjukkan kemarahan. Padahal biasanya, bila Faisal menyentuhnya, maka ia pun akan menunjukkan kemanjaannya sebagai seorang isteri kepada suaminya. Lalu mereka akan larut dalam kemesraan yang dalam. Kini Faisal benar-benar tak dapat mempercayai kenyataan, yang baru saja berlangsung di hadapannya!

Faisal terdiam. Tidak bicara sepatah kata pun. Wajahnya tampak sedih dan kecewa. Ia keluar dari kamar, membawa kopi yang baru diminum sedikit. Sementara Fairuz tak bisa memejamkan mata di tempat tidurnya.

Besoknya, Faisal tidak menggendongnya saat ia bangun tidur. Tidak ada percakapan hangat dan gurauan, yang disertai pelukan di meja makan. Fairuz memperhatikan dengan ekor matanya, suaminya hanya makan sedikit. Seperti orang tidak berselera. Wajahnya tampak kuyu.

Ketika melepas suaminya di depan pintu, Fairuz merasakan ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Tiba-tiba ia merasakan hal yang aneh. Ia merasa asing. Sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Lebih baik tidak merasakan hal ini, batinnya.

Seharusnya ia biarkan semuanya berlangsung seperti apa adanya. Tidak perlu suaminya tahu apa yang menjadi kekesalan hatinya. Kenapa tidak ia biarkan suaminya menyentuh dan menciumnya? Apa ia punya hak untuk menolak?

Ia hanya seorang perempuan, datang dari kampung. Semua keluarganya tinggal di kampung. Faisal telah membawanya ke kota. Tentu saja ia tidak sama dibandingkan dengan ibu-ibu rumah tangga yang menjadi tetangganya. Baik dari segi pemikiran, maupun latar belakang kehidupan. Sikapnya pada Faisal tidak mencerminkan kesabaran seorang wanita. Ia tidak biasa memberontak. Ibunya selalu mengajarkan tentang kesabaran dan keikhlasan.

Malam harinya ia tidak sanggup melihat wajah suaminya. Hatinya didera rasa malu. Sedari tadi ia hanya di kamar, seolah disibukkan sesuatu. Tak terasa sebutir air mata menuruni pipinya yang mulus. Ia menangis. Menahankan perasaan rindu pada suaminya. Dia yang memulai semua ini, dia merasa harus dia pulalah yang mengakhirinya.

Pada saat Fairuz akan ke luar dari kamar, saat yang sama Faisal menuju ke dalam kamar. Tabrakan dua tubuh itu tak dapat dielakkan. Mereka terjatuh. Tangan Faisal terhimpit di bawah tubuh Fairuz. Jarak mereka sangat dekat. Fairuz memejamkan matanya. Sesaat merasakan desah nafas suaminya di wajahnya. Ia merindukan segalanya dari suaminya.

Kemudian mereka pun berdialog. Berupaya memecahkan perseteruan yang telah mendera mereka. Dan, menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri
( ehem-ehem, dg cara yg paling.. :-) tau sendiri lhah pasutri !! ).

Ketika Ramadhan Tiba

Jumat, 23 April 2010

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah bergulir sepuluh hari.
"Gimana Bi ....... dapat ijin dari pak Hendra? " tanya Fitri, isteriku penuh harap.
"Nggak boleh Mi... nggak dapat ijin" jawabku.
Kulihat Fitri terdiam, tapi terlihat semburat kekecewaan nampak pada rona wajahnya. Yah betapa tidak cuti lebaran tahun ini tak kuperoleh dari atasanku. Berarti ini sudah tahun ketujuh kami sekeluarga tidak dapat berlebaran di kampung bersama sanak keluarga. Sejak menikah, sampai kami mempunyai 3 anak, aku dan Fitri memang tidak pernah merasakan berlebaran bersama keluarga.
Pada mulanya aku begitu yakin pak Hendra atasanku akan memberiku cuti 3 pekan, karena aku pikir sudah 2 tahun aku tidak mengambil cuti, dan lagi sudah tujuh kali berturut aku tidak dapat kebagian cuti lebaran. Tapi nyatanya dengan permintaan maaf, pak Hendra menolak ajuan cutiku. Posisiku sebagai chief manager di perusahaan ini mengharuskan aku menangani kontrak kerja yang diadakan sepekan setelah lebaran. Buyar sudah impian mudik lebaran bersama keluarga.Terbayang bagaimana Fitri sudah menyiapkan berbagai macam oleh-oleh untuk keluarga kami. Kebetulan keluargaku dankeluarga Fitri tinggal di kampung yang sama hanya dibatasi oleh sungai yang membelah. Dan bagaimana senangnya anak-anak kami dapat bertemu dengan mamak dan datuk nya. Oh tidak, aku tidak boleh mengecewakan mereka.
" Mi...bagimana kalau ummi saja yang pulang bersama anak-anak?', tanyaku.
"lalu abi bagaimana?" tanya Fitri.
'Yaaa.. habis bagaimana lagi, abi tetap tinggal di Jakarta, ummi dan anak-anak saja yang pulang ke Padang. Azzam, Ahmad dan Afif pasti rindu dengan mamak dan datuk", timpalku, "sudah tiga tahun mereka tidak pernah jumpa. Sekalian ummi refreshing kan, bisa ada yang bantuin momong anak-anak", godaku.
Selama ini kulihat Fitri memang begitu pontang-panting mengurus tiga anak kami yang masih kecil-kecil. Azzam 5 tahun, Ahmad 3 tahun dan Afif 1,5 tahun. Semua pekerjan rumah diurusnya sendiri mulai dari mengurus anak-anak, mengurus keperluanku, membereskan rumah, masak, mencuci dan lain lain. Ditambah lagi kegiatan isteriku untuk mengisi taklim dan pengajian kesana kemari. Harus kuakui bahwa isteriku ini memang wanita aktif yang tidak bisa diam. Aktifitasnya yang begitu padat tidak membuat dirinya merasa lelah. Kalau sering berdiam diri tanpa ada kesibukan, setan selalu mengusik kita, begitu alasannya.
"Bukannya abi yang justru mau istirahat", kata Fitri, " enak kan bi, nggak dengerin kecerewetan umi, atau tangisan anak-anak" . Hemm....aku tersenyum kecut mendengarkan perkataan Fitri. Tetapi dalam hatiku membenarkan apa yang baru Fitri ucapkan. Ya.. waktu istirahat, pikirku nakal. Tidak mendengar suara teguran isteriku, ketika aku masuk rumah tanpa membuka sepatu. Atau ketika makan tanpa membersihkan tangan dengan sabun dan air yang bersih. Atau ketika pergi kantor tanpa menyisir rambut dengan rapi, menggosok sepatu. Atau...beribu teguran yang selalu terdengar di telinga. Memang kuakui Fitri mempunyai sifat resik dan disiplin dalam segala hal. Dengan kesibukannya, kulihat rumah kami selalu rapi dan bersih.
Kebersihan adalah sebagian dari Iman katanya sambil menyitir salah satu hadits Rasulullah. Anak-anak tidak boleh tidur lewat dari pukul 9 malam dan pukul 4.30 harus sudah bangun. Setelah membaca koran dan buku harus diletakkan kembali ketempatnya. Pakaian harus tergantung rapi. Azzam dan Ahmad tampaknya sudah bisa mengikuti pola yang diterapkan umminya. Mereka menjadi anak yang rajin dan disiplin.Aku yang selalu memakai pakaian asal comot sekarang harus mematuhi 'peraturan' Fitri. Pakaian kantor, pakaian rumah, pakaian tidur, pakaian kondangan dipilah-pilahnya, suatu hal yang tak terpikirkan sebelum aku nikah. Pantas saja teman-temanku sering menggoda, menurut mereka penampilanku setelah nikah berubah 180 derajat, lebih rapi dan terurus katanya.
Aku yang sebelum menikah tampil asal-asalan, hingga kamar kostku pun terlihat amburadul, kadang agak jengah juga mendengar 'omelan' Fitri. Sifat kami yang satu ini memang sangat jauh berbeda, seperti langit dan bumi. Ketika aku mengatakan pada Fitri agar ia dapat mengurangi sedikit kedisiplinannya dan keresikannya, ia mengelak dan mengatakan bahwa keluarga muslim harus bersih. Bagaimana kita bisa mendakwahi orang lain agar terbiasa hidup teratur dan bersih sementara diri kita tidak berbuat demikian tangkisnya. Atau katanya kami harus malu kepada tetangga sebelah yang beragama Nasrani apabila rumah kotor, penampilan awut-awutan dan hidup tidak teratur. Sebenarnya betul juga apa yang dikatakannya. Tetapi sekarang aku mau istirahat di rumahku sendiri, aku ingin merasakan sebentar kehidupan seperti dulu sewaktu kost dan sebelum menikah. Bebas......
****
Pulang dari mengantar Fitri dan anak-anak ke Cengkareng, 10 hari sebelum Idul Fitri, rumah tampak begitu lengang sekali. Aku bisa beristirahat dan tenang beriktikaf pikirku. Adzan maghrib terdengar, bismillah... kuhirup air putih dari kulkas. Tidak ada teh hangat dan kolak kesukaanku yang biasanya menemani berbuka puasa. Setelah sholat maghrib kuambil nasi dari rice cooker dan rendang buatan Fitri yang tersimpan di lemari es. Aku malas sekali untuk menghangatkannya. Biarlah... nasi putih plus rendang dingin menjadi santapanku kali ini.
Oh ya, aku harus segera pergi ke Masjid Baiturrohman sekarang. Ada janji sholat tarawih dan pengajian Ramadhan. Piring-piring dan gelas bekas makan kubiarkan saja tergeletak di meja. Kuambil baju sekenaku dan tancap gas menuju masjid karena tak ada waktu lagi.
****
Tidak terasa Ramadhan sudah hampir berlalu. Ini adalah malam Idul Fitri, terdengar suara takbir menggema di masjid-masjid. Ramai sekali. Suara takbir nan merdu. Tiba-tiba aku tersadar dan merasa hampa. " Ya..Alloh, aku begitu rindu kepada isteri dan anak-anakku......aku rindu dengan celoteh dari mulut-mulut kecil mereka, tangis mereka, atau senandung do'a yang sering mereka suarakan, dan juga rindu dengan senyum Fitri, serta teguran-tegurannya". Butir-butir kristal berjatuhan tak terasa di atas sajadah panjangku. Tangiskupun tak dapat ku bendung lagi. Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan meninggalkanku dan kerinduanku akan keluargaku membuat aku tak bisa menahan tangis.
Disuasana ramai seperti sekarang ini hanya kesunyian yang aku rasakan. Aku merasa Alloh mencabut sementara nikmat yang telah diberikanNya. Yaitu nikmat berkumpul dengan keluarga. Terasa sekarang ini betapa nikmat itu ternyata merupakan karunia besaar sekali, yang tidak pernah kusadari selama ini. Nikmat kesenangan berkumpul dengan keluarga kurasakan setelah nikmat itu tidak ada untuk sementara.

Aku ingat bagaimana wajah Fitri yang mendadak cemberut ketika aku pulang kantor tanpa melepas sepatu walaupun kulihat dia sedang mengepel lantai. Atau bagaimana kesalnya ia ketika aku memporak-porandakan lagi lemari buku yang baru saja dibereskannya hanya karena ingin mencari sebuah buku saja. Kuingat pula kurang lebih 4 bulan yang lalu ia mengatakan dengan sangat hati-hati kepadaku bahwa mengurus Azzam, Ahmad dan Afif lebih mudah ketimbang mengurusku. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum geli, dan dengan santai kujawab bahwa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Perasaan bersalah menumpuk di dada, aku yang seharusnya membantu meringankan beban Fitri malah membuat pekerjaanya bertambah. Maafkan aku Fitri, karena telah membuatmu bertambah repot selama ini..... Ramadhan kali ini telah memberiku banyak pelajaran.
Pagi-pagi aku bersiap untuk menunaikan shalat Idul Fitri, kucari baju yang cocok. Tetapi tak ada baju yang sesuai di lemari pakaian. Kulihat di ujung kamar ada seonggok pakaian kotor yang belum sempat kucuci apalagi kuseterika. Terpaksa aku mengambil baju baru yang masih terbungkus plastik. Andaikan Fitri ada pasti dengan sigap ia menyiapkan segala keperluanku. Kutolehkan pandangan ke sekitar rumah.....ooou, rumah tampak kotor sekali. Piring-piring dan gelas kotor menumpuk di dapur, lantai tampak kusam, jendela berdebu, buku dan koran berserakan di mana-mana. Di halaman bunga bunga kesayangan Fitri tampak layu dan daun-daun kering berguguran dimana-mana. Tak sejuk dipandang mata.
Aku bergegas melangkah menuju lapangan untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Di jalan terlihat banyak anak-anak kecil bergandengan riang dengan kedua orang tua mereka....senang sekali .Tiba-tiba aku merasa cemburu sekali, itu sebabnya pulang dari shalat Idul Fitri segera kutelepon mereka dan kukatakan agar sesegera mungkin mereka kembali ke Jakarta. Rinduku tak tertahan lagi.
****
Hari ini aku bahagia sekali isteri dan anak-anakku telah tiba kembali di Jakarta. Di perjalanan pulang dari Bandara Soekarno-Hatta, banyak sekali cerita-cerita lucu yang kudengar. Bagaimana Azzam berceloteh tentang keheranannya melihat kerbau yang dilepas begitu saja di sawah. Ahmad yang gemar mengejar bebek di halaman. Tak ketinggalan pula Fitri begitu semangat menceritakan bagaimana mamak senang sekali pada Afif yang menurutnya amat mirip dengannya. Subhanalloh ...mereka adalah Qurrata 'ayun bagiku. Diam-diam kubaca do'a "Robbana hablanaa min azwazina wa dzuriyatinaa quratta'ayun waja'alna lilmutaqina imamah". Terima kasih ya Alloh ..... Engkau telah memberiku anak-anak yang sholeh, sehat dan pintar. Engkau telah memberiku isteri yang sholehah, baik, dan rajin.
Namun begitu tiba di rumah raut muka Fitri yang cerah terlihat berubah seketika...... Ia terdiam dan kemudian terpekik......."Masya Allah abi,..... ini rumah apa kapal pecah?" Dalam hati aku sudah menduga. " Maafkan aku Fitri, insya Allah ini yang terakhir kali......" bisikku seraya membantunya membereskan semuanya.

Mendulang Harta

Hari panas terik. Sang surya bersinar dengan ganasnya. Membuat ubun-ubun terasa mendidih. Aris mempercepat langkah menuju rumahnya. Akhirnya sampai juga. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.
‘’Huh, lega rasanya,’’ ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di lantai.

‘’Hah, uang apa pula ini Mak,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,’’ pikirnya nakal.

“Uang punya Mak. Berikan sama Mak. Bapak mau keluar,’’ sahut bapak.
‘’Hmm, Mak sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar uang les dan LKS,’’ pikirnya.
‘’Maaak, Oo Maaak,’’ panggil Aris.


‘’Ada apa Ris. Ganggu orang saja kamu ini,’’ kata maknya jengkel.
Lalu Aris menyerahkan uang tersebut pada maknya. Ia menjelaskan bahwa uang les dan LKS-nya belum dibayar. Sedang pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya. Tapi bukannya diberi uang, dia malah dimarahi oleh maknya.
‘’Saya heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali tetek bengek yang harus dibayar. Kan ada dana BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudahlah, tidak usah kamu sekolah. Buang-buang uang saja. Sekarang karet itu tidak berharga, tahu?’’ Katanya dengan muka merah menyala.

Aris sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor. Tapi maknya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Aris cari uang sendiri. Kemanakah uang kan dicarinya? Ah, Emak tak mengertilah dengan pendidikan. Padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan kita akan bisa menatap masa depan yang gemilang.
‘’Buat apa kamu sekolah? Lihat itu hah, banyak yang sekolah tinggi, tapi akhirnya cuma jadi pengangguran, kan? Jadi buat apa sekolah?’’ tambah maknya lagi.

Aris lebih memilih diam dari pada menjawab omongan maknya. Ia menyayangkan kenapa maknya mempunyai pola pikir yang terbelakang seperti itu? Sekarang orang berlomba-lomba mencari ilmu, tapi mak malah melarangnya.
‘’Mak... mak, mengapa Emak lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami anak-anak mak. Itu akan lebih bermanfaat,’’ gumamnya dalam hati.
Aris sudah lelah mendengarkan omelan emaknya itu. Dia keluar dan pergi entah ke mana.

Sedangkan si Lina, adiknya baru saja pulang dari sekolah SMP yang tidak jauh dari rumahnya. Setibanya di rumah, mak menyuruhnya mandi dan berpakaian yang bagus. Tidak biasanya mak seperti ini. Ternyata si Lina akan dilamar oleh Pak Anto duda kaya yang tinggal di desa sebelah. Tentu saja Lina menolak dengan keras semua itu. Namun, mak tetap bersikeras dengan kemauannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa anaknya itu di bawah umur untuk menikah. Apalagi akan dinikahkan dengan seorang duda. Ah, benar-benar tidak masuk akal.

Emak sudah terpengaruh oleh harta. Mak bilang, ia iri pada teman-teman arisannya yang kaya dan hidup mewah. Sedangkan mak tidak punya apa-apa. Mak ingin menabung untuk menggapai semua itu. Kalian tidak usah sekolah. Hanya menambah beban saja.

Hari-hari berikutnya, Aris tak lagi bersekolah. Ia berhenti dan bergaul dengan teman-temannya yang tidak sekolah. Sebenarnya hati kecilnya selalu sedih tiap kali melihat teman-temannya bersekolah. Tapi apa mau dikata, mak sudah tidak mau lagi menyekolahkannya.

Setiap kali ia ikut teman-temannya dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh teman-teman baru itu. Sedangkan mak sudah tidak peduli lagi dengannya. Ia sibuk mengumpulkan harta, apalagi sekarang ia telah punya menantu kaya.
Waktu terus berjalan. Aris semakin terjerumus dalam kehidupan yang tidak memiliki masa depan. Ia telah berubah. Hingga suatu hari dengan tergopoh-gopoh, Enda temannya Aris datang dan memberitahukan pada Emak kalau Aris ditangkap polisi tadi malam. Tapi sekarang ia dirawat di rumah sakit. Overdosis katanya. Habis pesta sabu-sabu.
Bagai guntur di siang bolong, Emak dan bapak kaget bukan kepalang. Tapi apa mau dikata. Itu salah mereka, mereka yang menginginkan anaknya seperti itu. Mak menangis-nangis menyesali perbuatan dan siapnya yang tak mau menyekolahkan anaknya itu.

‘’Sudahlah Nur, mudah-mudahan Aris lekas sembuh dan kita bisa kumpul lagi seperti dulu. Akan kita bina keluarga kita. Biarlah kita hidup sederhana, asalkan hati dan keluarga kita bahagia,’’ kata Bapak dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menenangkan hati mak.

‘’Bapak benar, kini mari kita bina dan songsong keluarga sakinah,’’ kata mak mantap.

Teror Cinta Q

Kamis, 22 April 2010

Sudah 3 hari aku meneror Rangga dengan nomor pribadi, aku sangat suka hal ini, setiap malam aku selalu menelponnya dengan nomor pribadi dan bodohnya setiap aku menelpon Rangga pasti dengan senang hati mengangkatnya, padahal dia nggak tau siapa yang ia ajak bicara saat itu, aku emang suka ama Rangga sejak kelas 1 SMA. Menurut aku dia itu cowok yang baek, ramah, pinter, tidak sombong, cakep lagi. Tapi karena aku di sekolah nggak terlalu akrab dengannya jadi aku nggak berani menyatakan perasaanku ama dia, terpaksa deh akhirnya aku menempuh cara ini, menelponnya setiap malam dengan menyamar menjadi Tantri.Malam ini, adalah malam kesepuluh aku menelponnya, aku duduk di depan jendela kamarku, sambil menunggu jawaban telpon darinya, tak lama kemudian terdengar suara dari seberang sana, suara yang sangat ingin ku miliki, "Halo??? NIe Tantri ya???" tanyanya lembutSenangnya dia tau ini aku, ah.. bukan, maksudku dia tau kalau ini TANTRI. "Ah, dari mana kamu tau kalo aku Tantri??" tanyaku berbasa - basi. "heh, siapa lagi yang nelpon kesini pake nomor pribadi kalo bukan kamu??" jawabnya santai. Aku terkikik. "eh, malah ketawa," katanya. "knapa nggak boleh?" jawabku sok judes. "ya, boleh sih, tapi jangan ampe ngikik kayak gitu dong serem tau," katanya. Tawaku malah menjadi - jadi. "udahan dong ketawanya," katanya. aku membungkam mulutku "Ups, sory, sory," jawabku. "eh tan, besok ada waktu gak?? ketemuan yuk??". Oh my god, Rangga mengajakku ketemuan, sebenarnya aku seneng banget tapi aku sekarang kan lagi menyemar menjadi Tantri. "Mmm... gmana ya? aku besok ada acara sama temen - temen nih, lain kali aja ya??" jawabku. "Oh gitu ya udah gak apa - apa deh,". Aku tau Rangga merasa kecewa tapi aku belum siap untuk mengungkap semua ini.Semakin hari aku semakin sering menelpon Rangga, pernah sesekali dia meminta nomorku agar dia bisa menelpon ku, tapi dengan beribu alasan aku mencoba menolak permintaannya. hingga akhirnya dua bulan kemudian, aku dengar ada adik kelas yang sedang mendektinya. Hatiku berubah menjadi gelisah, dan takut kalau adik kelas itu akan menarik perhatiannya. Akhirnya malam ini aku bertekad untuk mengajaknya ketemuan di Cafe dekat sekolah, "Oke, aku tunggu disana,"katanya. "eh, makasi ya,"katanya lagi, tapi kali ini aku nggak tau untuk apa dia mengucapkan terimakasih kepadaku. "makasi buat apa nih?"tanyaku. "ya, makasi aja, mmm.... ntar juga kamu tau, uadah ya aku mau siap - siap nih,". Ach dasar...." aku menutup telponku, aku sangat deg - degan, nekat banget sih pake acara ketemuan segala, uhhh... dasar aku Begoooo....!!!" teriakku, menyesal.Jam sudah menunjukkan pukul 7, aku sudah siap namun aku masih ragu untuk kesana. Tapi tekadku kini udah bulat kayak bola pimpong, akhirnya ku starter motorku dan melaju dengan kecepatan 40 km/jam, biar lama nyampe cafenya. Tak lama kemudian aku sampai di Cafe tempat kami janjian, aku melirik jam yang di pajang di tembok, jam sudah menunjukan pukul 19.30, pas banget aku nyampenya, gumamku dalam hati. Tapi mana Rangga?? dia belum datang??aku menunggunya dimeja nomor 9, sudah beberapa menit aku menunggu dia belum datang, 1 jam, 2 jam, dan akhirnya 3 jam aku menunggunya, dia tak datang, apa - apaan ini?? apa dia sudah tau ini aku?? dan dia ingin balas mengerjaiku?? aku menelponnya tapi tak ada jawaban. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, dengan seribu pertanyaan yang berkecamuk dihatiku.keesokan harinya, aku berangkat kesekolah seperti biasa, dan sebelum berangkat aku mencoba menghubungi Rangga, tapi Hpnya tidak aktif. Tak lam kemudia aku sampai di sekolah, aku melihat banyak anak berkerumun di depan papan pengumuman, ada apa?? aku langsung mendekat kesana, mencoba mencari tau. Tak lam aku mencoba masuk ketengah kerumunan, akhirnya aku menemukan secarik kertas hitam tertempel di papan pengumuman dan bertuliskan, TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA RANGGA HANAFI KELAS 3 IPA1, SEMOGA DITERIMA DISISI TUHAN. Aku tak percaya semua ini, Rangga??? Ranggaku telah tiada, ini mimpi bukan?? kepalaku penuh dengan pertanyaan bodoh dan hatiku dinaungi rasa tak percaya. Air mataku menetes tak tertahankan, aku langsung bergegas pulang tak ingin memperlihatkan kesedihanku yang luar biasa dihadapan teman - temanku, karena mereka tau aku tak begitu akrab dengan Rangga, dan mereka juga nggak tau aku adalah orang yang paling sedih atas kejadian ini. Ranggaku telah tiada, dia pergi karena aku, dia mengalami kecelakaan saat akan pergi ke Cafe tempat kami janjian, kini aku tak mampu berbuat apa - apa, semuanya udah terlambat, mungkin pengakuanku ini tak berguna lagi, aku sangat menyesal dan rasa menyesal inilah yang kini mereorku, meneror kehidupanku, membalas teroranku yang dulu pada Rangga...

Pengikut