Pengetahuan Seksual Secara Dini Dapat Melindungi Remaja

Sabtu, 12 Juni 2010

Pengetahuan Seksual Secara Dini Dapat Melindungi Remaja

Seiring perkembangan informasi dan pergeseran nilai-nilai budaya yang tumbuh pesat, para orangtua kini mulai dipandang perlu memperkenalkan pengetahuan sekitar fungsi reproduksi sekaligus menjaga kesehatannya. Bila remaja mendapatkan informasi yang menyesatkan, dikhawatirkan mereka bisa terjerumus pada perilaku seks bebas. Demikian dikemukakan relawan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) Yayasan Pelita Ilmu Zubairi Djoerban di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Zubairi, saat ini telah terjadi pergeseran norma seksual pada remaja, terutama di kota-kota besar. Pada sebagian remaja, seks dipandang bukan lagi hal sakral, yang boleh dilakukan hanya sesudah menikah. Bagi mereka masalahnya bukan lagi pada larangan agama dan norma masyarakat, tetapi pada cara menghindari kehamilan. Padahal, hal itu menyimpan sejumlah masalah yang lebih besar, yakni ancaman penyakit kelamin: siphilis, keputihan, gonorrhea, hingga penyakit mematikan yakni AIDS.

Berdasarkan penelitian terhadap perilaku seksual remaja di Jakarta Selatan, data menunjukkan bahwa kebanyakan para remaja usia belasan tahun yang disebut anak gaul lebih banyak melewatkan waktunya di lingkungan pusat-pusat perbelanjaan. Ironisnya, sebagian dari mereka juga menjajakan diri hanya untuk mendapatkan kemewahan. "Biasanya kelakuan mereka ini jarang diketahui orangtua," ujar Zubairi.

Zubairi menambahkan, meski remaja gaul kerap berhubungan seksual, namun pengetahuan mereka mengenai penyakit kelamin sangat minim. Bahkan, keterbatasan pengetahuan tentang perilaku seksual ini sama minimnya dengan remaja lain yang tak menjajakan diri. Selain itu, pengetahuan mereka juga sama awamnya mengenai beberapa cara berhubungan seksual yang dapat menyebabkan kehamilan.

Biasanya, menurut Zubairi, pengetahuan seks yang diperoleh para anak gaul ini kebanyakan berasal dari teman atau rubrik konsultasi seks di berbagai media cetak. Itulah sebabnya, untuk memberikan mereka informasi yang benar, diperlukan cara khusus yang berbeda pada masing-masing kelompok. Misalnya, pada kelompok anak gaul digunakan cara peer educater atau pendidik yang berasal dari kalangan mereka sendiri.

Memang, orangtua tak selamanya dapat mengawasi anak remajanya sepanjang waktu. Namun paling tidak, mereka dapat memberikan landasan iman yang kuat, terutama ketika sang anak mau memasuki masa remaja. Tapi, bila hanya landasan iman saja dikhawatirkan sewaktu-waktu dapat runtuh dengan rangsangan duniawi. Itulah sebabnya, selain pengawasan, komunikasi antara orangtua dan anak harus dibangun berdasar rasa saling percaya dan terbuka. Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa seks masih tabu buat dibicarakan secara terbuka.

6 komentar

BOOK ONLINE mengatakan...

SETUJU!! apa lagi dijaman yg semakin maju ini...

PIK REMAJA AL-HIKMAH mengatakan...

BookOnline@;Mungkin Harus dimasukkan kedalam kurikulum kali

Ega mengatakan...

Dengan membiasakan diri berpuasa mungkin dapat meredam hawa nafsu, apalagi bila sejak usia dini...

PIK REMAJA AL-HIKMAH mengatakan...

Ega@: saran yang bagus shobat, mungkin bisa dipakai buat bahan postingan dikelak hari

aLamathuR mengatakan...

Asal jangan sampai salah kaprah aja.. dan tentunya dengan pengawasan dan pendampingan yang benar..

PIK REMAJA AL-HIKMAH mengatakan...

Alamathur@:Sebuah masukkan bagus tuch sob, daripada waktu dihabiskan buat berduaan ama pacar yang bikin bahaya, mendingan buat berbagi pengetahuan melalui Blog

Posting Komentar

Jangan Lupa KLIK Google+

Pengikut