Remaja & Hamil di Luar Nikah

Kamis, 22 April 2010

Remaja dan Hamil di Luar Nikah
Video porno dengan lakon seorang pelajar usia belasan makin marak beredar lewat ponsel maupun internet. Bahkan survei juga menunjukkan banyak remaja yang pernah melakukan hubungan seksual, tak sedikit juga yang hamil dan terpaksa menikah.
Memang kasus hamil sebelum menikah di kalangan remaja layaknya fenomena gunung es, seperti yang dituturkan Psikolog UGM, Noor Rochman Hadjam. Hanya di permukaan yang tampak, sedang yang tidak terlihat jauh lebih banyak. Dengan kata lain, kemungkinan masih banyak remaja yang hamil di luar nikah tapi tidak terdata.
Well, saya nggak akan ngebahas panjang lebar soal apa dan mengapa kasus ini bisa marak terjadi. Tapi lewat tulisan saya ini, saya mengajak siapa saja yang mengalami hal ini untuk bisa berpikir jernih, lalu mengambil keputusan yang terbaik bagi hidupnya dan si jabang bayi di masa depan.
Think Twice
Ketika test pack-mu menunjukkan hasil positif, ketakutan seperti apa yang ada dibenakmu saat itu?. Orang tua yang kecewa, pendidikan terbengkalai, malu terhadap teman-teman?. Oke, kita singkirkan dulu ketakutan itu satu per satu dari pikiranmu.
Sebelum kamu memutuskan langkah selanjutnya setelah mengetahui hasilnya, pastikan kamu dalam kondisi tenang meski hati kebat-kebit, ketakutan. Saya ngerti kok, bukan perkara gampang bersikap tenang di tengah kepanikan lantaran ketakuan hamil sebelum nikah.
Ya, it’s a big deal! Masalah ini sudah menyangkut masa depanmu, juga nama baik keluargamu yang jadi taruhannya. Tapi ingat, ini menyangkut hal penting dalam hidupmu, ‘decision’ apapun yang kamu ambil harus benar-benar matang dan jangan sampai gegabah.
Berikut ini beberapa hal penting yang kudu kamu ingat dan dilakukan:
1. calon ayah
Saat kamu dinyatakan positif hamil, segera beritahu ayah dari calon anakmu. Ini penting, karena dia juga bagian dari kehidupan si jabang bayi. Saran saya, bicarakan hal ini berdua saja dengannya, dengan kepala dingin tanpa emosi dan dalam suasana setenang mungkin. Tanyakan, apakah dia bersedia bertanggung jawab atau sebaliknya tak mau tahu dengan kondisimu dan calon anaknya. Masalah akan simpel dan tak ribet kalo ternyata dia bersedia bertanggung jawab. Tapi jika tidak, tanyakan alasannya, meski nanti akan ada banyak perdebatan dan emosi ketika dia menolak bertanggung jawab.
2. dirimu sendiri dan si jabang bayi
Setelah kamu mendapatkan jawaban tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan si calon ayah menghadapi kehamilanmu yang tak terduga ini, kini saatnya kamu berbicara dengan hatimu dan menanyakan pada dirimu sendiri, apa yang kamu inginkan sekarang dengan kehamilan ini. Apa sih yang kamu rasakan ketika ada makhluk mungil yang terus tumbuh dalam rahimmu, apa yang akan terjadi dengan hidupmu di masa depan, siapkah kamu menghadapi ini semua jika kamu mempertahankan kehamilan ini, apa ada ’second opinion’ selain ‘melepasnya’ tapi juga tidak merawatnya. Ya, ini memang ngga mudah karena pasti akan ada banyak dilema yang menyerang dan menghantui perasaanmu. Tetap kuatkan hati! Tanyakan jauh ke dalam hatimu apa yang kamu inginkan. Ingat, jangan sampai terpengaruh dengan segala pendapat dan opini soal kehamilanmu ini. Eit!, tapi jangan lupakan juga untuk memikirkan bayi dalam kandunganmu.
3. parents
Inilah tahap terberat yang harus kamu lakukan. Dan mungkin inilah yang bakal jadi ketakutan terbesarmu, memberitahu mereka soal kehamilanmu. Meski berat, tapi ini harus kamu lakukan meski setelah mengetahui kabar buruk itu darimu, orang tua akan memaki, mengusirmu dari rumah, atau salah satu orang tuamu bakal pingsan dan shock berat. Well, itu sangat wajar terjadi. Kekecewaan orang tua yang teramat besar padamu, karena menorehkan goresan pada nama baik keluargamu yang seharusnya kamu jaga. Ingat, usahakan jangan lari dari mereka, karena saya tahu meski mereka kecewa padamu, orang tua tetap akan memberikan solusi yang terbaik bagimu. Diantaranya, meminta tanggung jawab si calon ayah sampai menuntut ke pihak keluarganya, dan tentunya orang tua tetap akan memberikan tempat yang nyaman bagimu dan jabang bayimu.
Take it or leave it
Dalam menghadapi masalah ini, mungkin kamu hanya akan memikirkan dua pilihan ‘terima resiko atau menolak resiko’. keduanya sama berat untuk diputuskan namun keduanya juga menawarkan jalan keluar. Pilihan yang sepertinya mudah adalah menggugurkan kandungan. Dianggap mudah karena tidak berimbas pada kehidupanmu. Tapi jangan salah, resiko menggugurkan kandungan justru cukup berat. Dampaknya adalah pendarahan hebat yang menyebabkan kematian. Bisa terjadi karena prakteknya tidak melibatkan tenaga profesional (unsafe abortion). Tak hanya itu, menggugurkan kandungan juga berdampak pada kejiwaan, timbul rasa bersalah yang menghantui perasaaan dan kehidupan di masa depan.
Pilihan lainnya adalah mempertahankan sang jabang bayi tetap hidup. Tentu saja, ini akan sulit bagimu, harus menanggung malu karena perut terus membesar. Namun, dengan mengikuti konseling yang diberikan dokter kandungan atau psikolog pasti akan sangat banyak membantumu melewati hari-harimu membesarkan sang buah hati. Masih ada banyak pilihan lain. Jika kamu tak sanggup dan belum siap merawat bayimu di usiamu yang masih sangat muda, kamu bisa mencari pasangan yang bersedia merawat bayimu. Dan kalo kamu merasa mampu, be a single parent. Tentu saja ini didasari rasa tanggung jawab yang besar karena sudah berani berbuat maka bersedia mempertahankan dan merawat si bayi. Saya acungkan jempol untuk mereka yang berani mengambil keputusan untuk menjadi orang tua tunggal. Bagusnya, keputusan ini akan membawa ke tahap pendewasaan diri yang lebih cepat bagi si ibu muda.

0 komentar

Posting Komentar

Jangan Lupa KLIK Google+

Pengikut