Remaja Indonesia Hadapi 3 Risiko Besar

Jumat, 23 April 2010

Keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK KRR) makin ditunggu-tunggu. Selain diharapkan mampu menjawab permasalahan remaja, juga mempersiapkan remaja mengembangkan kemauan dan kemampuan positifnya. Dalam waktu dekat, PIK KRR bukan hanya ada di sekolah maupun Puskesmas - seperti yang ada pada umumnya - tetapi juga dikembangkan di setiap kecamatan di tempat-tempat yang cukup diminati remaja, seperti di masjid, mall dan lain-lain.
Keseriusan menangani permasalahan remaja memang perlu. Karena lebih dari sepertiga jumlah penduduk Indonesia adalah kelompok remaja usia 10 ? 24 tahun sedang dihadapkan tiga risiko besar. Yaitu risiko perilaku seks bebas, HIV/AIDS dan narkoba yang ketiganya disebut triad KRR.
Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) M Masri Muadz, perilaku seks bebas remaja saat ini sudah cukup parah. Berdasar data penelitian terakhir pada 2005 ? 2006, di kota-kota besar mulai dari Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Ujungpandang rata-rata 40 ? 50 persen remaja sudah mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah.

?Sebagai orangtua tentu saja kita terkejut, tapi belum semua orang tua menyadari hal ini. Dari berbagai pertanyaan penelitian yang diajukan kepada remaja antara lain dimana mereka melakukan seks bebas ini, 85 persen mengatakan melakukan di rumahnya,? tuturnya lirih.
Mudahnya remaja melakukan seks bebas di rumah berarti makin memudahkan pintu-pintu masuk HIV/AIDS menyerang siapa saja. Saat ini saja sudah ada sekitar 13.000 orang terkena HIV/AIDS berdasar data terakhir Departemen Kesehatan. ?Itu yang terdata. Tapi teorinya mengatakan, kalau mau tahu yang sebenarnya, kalikan 1000,? tegas Masri.

Dari hasil pengalian itu, kata Masri, ada sebanyak 13 juta orang yang sekarang ini mengidap HIV/AIDS dan separuhnya adalah remaja. ?Kondisi ini sudah sangat rawan ditambah separuhnyanya itu karena suntik narkoba. ?Nah, inilah situasi remaja kita sekarang. Belum semua orang menyadarinya, kecuali orang yang memberi perhatian khusus kepada remaja,? tandasnya.

Dana tidak memadai
Program yang dipersiapkan untuk mencegah, mengurangi dan melindungi remaja bermasalah yang dilaksanakan BKKBN sejak dulu adalah program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). ?Program ini dikerjakan banyak orang, banyak sektor, seperti BKKBN, Depkes dan lembaga swadaya organisasi masyarakat,? kata Masri Diakui Masri, secara program, policy-nya memang kuat karena ada target dan sasaran. Tetapi dikaitkan dengan dukungan dana yang disediakan oleh pemerintah ternyata tidak memadai. ?Contohnya dari Rp 1,4 triliun untuk program KB, untuk KRR hanya Rp 18 miliar. Padahal jumlah sasaran remaja daripada pasangan usia subur (PUS) lebih banyak remaja. PUS hanya 15 persen sedang remaja 40 persen,? tandasnya.

Sesuai kebutuhan remaja
Masalah remaja memang tidak bisa ditangani oleh pemerintah. Semua pihak di mana remaja itu biasa berada, baik peran keluarga, kelompok sebaya, sekolah, organisasi pemuda, harus dilibatkan untuk bersama-sama mengadapi isu ini. Oleh karena itu, PIK KRR tidak selalu berada di sekolah atau pun pesantren, tetapi juga bisa di mall, masjid, gereja atau wadah dimana remaja dapat memperoleh informasi, konseling jelas dan hal-hal lain yang mereka senangi. ?Kalau hanya KRR saja mereka tidak akan datang. Karenanya, PIK KRR harus memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan remaja. Dan pusat ini dikelola oleh, dari dan untuk remaja,? kata Masri.

Pentingnya remaja itu sendiri yang mengelola PIK KRR, karena hanya merekalah yang mengerti bahasa mereka. Berdasar data, informasi yang dibutuhkan remaja tentang KRR, 85 % mereka mencarinya lewat teman sebaya. Mereka tidak mencari ke orang tua, guru atau petugas. Sehingga pendekatan PIK KRR dikelola oleh antar mereka. ?Di awalnya memang dikawal oleh guru maupun orang tua, tapi itu semu dalam rangka melepas dia,? kata Masri.

Target di tiap kecamatan
Sejak kepemimpinan Dr Sugiri Syarif sebagai Kepala BKKBN Pusat mulai ditetapkan bahwa di setiap kecamatan akan ada satu PIK KRR yang aktif. Pembentukan PIK KRR pun sudah mulai diresmikan di beberapa daerah seperti di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa Timur dan Jawa Barat.

?Berdasar data kita saat ini ada 2236 PIK KRR, sementara jumlah kecamatan yang ada sekarang ada sekitar 6000, berarti program kita sudah berjalan seperenamnya,? kata Masri. Sementara itu, pendekatan yang dikembangkan dalam PIK KRR, ungkap Masri, adalah pengembangan pola Tegar Remaja. Dari pendekatan ini diharapkan bisa mengembangkan segala kemampuan dan kemauan positif remaja. RW

0 komentar

Posting Komentar

Jangan Lupa KLIK Google+

Pengikut